Indonesia Peringkat Kedua Dunia KLB Campak

Data World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah kejadian luar biasa (KLB) campak terbanyak kedua di dunia. Kondisi ini menunjukkan bahwa campak masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius dan memerlukan perhatian serta langkah strategis yang terintegrasi, DPR perlu:

a. Meminta Kementerian Kesehatan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap cakupan imunisasi campak dan rubella di seluruh wilayah Indonesia, khususnya daerah dengan angka KLB tinggi, termasuk pemutakhiran data sasaran imunisasi berbasis by name by address serta memastikan ketersediaan vaksin dan penguatan sistem rantai dingin (cold chain);

b. Mendorong Kementerian Kesehatan untuk memperkuat sistem surveilans epidemiologi dan respons cepat terhadap KLB campak, termasuk peningkatan kapasitas laboratorium dan pelaporan berbasis digital yang terintegrasi antara pusat dan daerah;

c. Meminta Kementerian Dalam Negeri untuk memperkuat koordinasi dan pengawasan terhadap pemerintah daerah dalam pelaksanaan program imunisasi rutin dan imunisasi kejar, serta memastikan komitmen kepala daerah dalam mencapai target cakupan imunisasi nasional;

d. Mendorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk mengoptimalkan pelaksanaan program imunisasi di satuan pendidikan melalui Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) serta mengintegrasikan edukasi tentang pentingnya imunisasi dalam kegiatan pembelajaran dan sosialisasi kepada orang tua siswa;

e. Mendorong pemerintah untuk memperkuat sistem surveilans epidemiologi dan respons cepat terhadap KLB campak melalui peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, optimalisasi pelaporan berbasis digital, serta penyediaan anggaran yang memadai dalam APBN untuk program imunisasi nasional;

f. Mendorong pemerintah daerah untuk aktif melakukan sosialisasi dan pendekatan persuasif kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan kesadaran akan pentingnya imunisasi sebagai upaya membangun kekebalan kelompok (herd immunity) dan mencegah terjadinya KLB campak secara berulang.