23 Marinir Tertimbun Longsor Cisarua

Sebanyak 23 Prajurit Marinir TNI Angkatan Laut (AL) tertimbun longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat saat melakukan latihan pra tugas satuan tugas pengamanan perbatasan Indonesia–Papua Nugini, dari kejadian tersebut 4 prajurit sudah berhasil dievakuasi dalam keadaan meninggal dunia, DPR perlu:

a. Menyampaikan rasa duka cita mendalam kepada keluarga Prajurit yang gugur serta kepada keluarga besar Korps Marinir TNI AL atas yang menimpa 23 personel TNI AL di Cisarua. Dalam hal ini,  DPR RI memastikan akan mengawal proses penanganan korban, kejadian tersebut merupakan pengingat akan tingginya risiko keselamatan yang dihadapi prajurit bahkan dalam situasi latihan atau penyiapan tugas;

b. Mendorong Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), TNI -  Polri bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mengoptimalkan seluruh sumber daya dalam proses pencarian  personel TNI AL maupun warga sipil yang masih dinyatakan hilang dengan tetap memperhatikan faktor keselamatan tim di lapangan mengingat kondisi cuaca yang tidak menentu;

c. Menyampaikan apresiasi serta penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Tim SAR Gabungan, yang terdiri dari unsur TNI, Polri, Basarnas, BPBD, hingga para relawan kemanusiaan, atas dedikasi dan kerja keras mereka yang tidak kenal lelah dalam melakukan upaya evakuasi dan pencarian korban di tengah medan yang sulit sekaligus mengimbau agar seluruh personel tetap mengedepankan prinsip safety first (utamakan keselamatan), mengingat kondisi geografis Cisarua yang masih labil dan potensi adanya longsor susulan yang dapat membahayakan nyawa tim penyelamat;

d. Mendorong Kementerian Pertahanan dan Panglima TNI Agus Subiyanto untuk menjamin pemenuhan seluruh hak administratif serta santunan kematian bagi keluarga prajurit yang gugur secara cepat dan tanpa hambatan birokrasi, termasuk pemberian santunan risiko kematian khusus (SRKK) sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

e. Mendorong Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk melakukan peningkatan akurasi dan frekuensi penyajian data prakiraan cuaca berbasis mikro (micro-scale forecasting) di wilayah dataran tinggi dan pegunungan, guna memberikan informasi yang lebih presisi bagi instansi keamanan dan masyarakat dalam memetakan risiko pergerakan tanah secara real-time.