MBG Picu Tekanan Pasokan Pangan dan Kenaikan Harga

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai memicu gejolak pangan akibat meningkatnya permintaan pada komoditas tertentu seperti telur, ayam, dan sayuran. Kenaikan harga dan potensi gangguan pasokan menimbulkan risiko pada efektivitas program serta stabilitas inflasi pangan, sehingga diperlukan langkah cepat dan terkoordinasi agar layanan gizi anak tetap terjaga, DPR perlu:

a. Mendorong Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Kementerian Pertanian untuk segera menyusun dan menerbitkan regulasi teknis yang mengatur diversifikasi bahan baku dalam menu MBG, dengan target penggunaan komoditas lokal yang relatif tersedia, agar permintaan tidak menumpuk pada beberapa komoditas saja dan memicu kenaikan Harga;

b. Mendorong Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Badan Gizi Nasional (BGN) untuk melakukan pemetaan supply– demand komoditas utama MBG (telur, daging, buah, dan sayuran) secara nasional dan per daerah, termasuk proyeksi kebutuhan harian SPPG, agar kebijakan intervensi pasokan dapat dilakukan lebih terukur;

c. Mendesak BGN bersama Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk memastikan distribusi pangan ke SPPG tidak mengganggu suplai ke pasar rakyat dan usaha kecil, melalui penataan rantai pasok dan pengaturan prioritas distribusi di wilayah dengan potensi kekurangan pasokan;

d. Mendorong BGN dan Bapanas untuk meningkatkan edukasi dan pembinaan kepada pemerintah daerah serta pengelola SPPG mengenai manajemen pengadaan yang efisien, pemilihan pemasok lokal, dan pengendalian mutu pangan agar tekanan permintaan tidak semakin mempersempit pasokan di pasar lokal.

e. Mendorong BGN melibatkan lembaga riset dan perguruan tinggi untuk melakukan studi evaluasi dampak sosial-politik program MBG misalnya efek terhadap kemampuan petani kecil, pengaruh terhadap inflasi lokal, persepsi masyarakat agar kebijakan program dapat ditetapkan berdasarkan bukti empiris dan dampaknya terhadap seluruh rantai pangan;

f. Mendorong Kementerian Pertanian untuk mengembangkan program kemitraan jangka menengah-panjang dengan petani dan peternak lokal sebagai pemasok prioritas MBG, guna memperkuat rantai produksi domestik, menstabilkan harga, dan mengurangi ketergantungan impor atau distribusi yang rentan gangguan. (JEL)