Angka Kekurangan Rumah di Indonesia Besar
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan
Kewilayahan mengungkapkan angka kekurangan rumah atau backlog
perumahan di Indonesia masih sangat besar. Berdasarkan data
terbaru, tercatat 9,9 juta keluarga belum memiliki rumah, sementara 26
juta keluarga lainnya tinggal di hunian yang tidak layak huni, DPR
perlu:
a. Meminta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
(PUPR) untuk segera melakukan pemetaan ulang kebutuhan
perumahan nasional dengan mempertimbangkan pertumbuhan
penduduk, urbanisasi, dan tingkat daya beli masyarakat;
b. Meminta Kementerian Keuangan dan Kementerian PUPR untuk
meninjau ulang skema subsidi bunga KPR dan bantuan uang
muka (FLPP, Tapera, dan BP2BT) agar lebih efektif, transparan,
serta tepat sasaran;
c. Mendorong Kementerian ATR/BPN, Kementerian Keuangan,
dan pemerintah daerah memperkuat koordinasi dalam penataan
kebijakan perumahan nasional, terutama terkait ketersediaan
lahan, legalitas aset, dan percepatan perizinan pembangunan
rumah rakyat;
d. Mendorong Pemerintah memperkuat program “Satu Juta
Rumah” dan “Rumah Bersubsidi” dengan menyesuaikan
mekanisme pembiayaan agar lebih inklusif, terutama bagi
kelompok masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), pekerja
informal, dan masyarakat pedesaan yang kesulitan mengakses
fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) konvensional;
e. Meminta Pemerintah menyusun peta jalan (roadmap) nasional
penurunan backlog perumahan dengan target capaian tahunan
yang terukur, berbasis data kebutuhan aktual dan proyeksi
pertumbuhan penduduk, agar arah kebijakan pembangunan
perumahan menjadi lebih terarah dan berkelanjutan. (NNA)