Harga Gandum Diprediksi Masih Akan Tinggi Hingga Paruh Kedua 2022

Peneliti pangan memperkirakan harga gandum sepanjang paruh kedua 2022 masih tinggi akibat beberapa faktor, yaitu sejumlah eksportir melakukan restriksi, terhambatnya proses distribusi gandum akibat invasi Rusia ke Ukraina, serta meningkatnya permintaan seiring pulihnya kegiatan industri, DPR perlu:

a. Mendorong Badan Pangan Nasional (BPN) bersama Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Kementerian Pertanian (Kementan) mengantisipasi lonjakan harga gandum yang tak terkendali, sebab akan berpengaruh pada kenaikan harga tepung terigu yang dapat menekan daya jual produk makanan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), pasalnya sebanyak 71 persen konsumen terigu merupakan kelompok UMKM. Selain itu, juga akan berdampak pada kenaikan harga mie instan yang merupakan produk alternatif yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat menengah ke bawah;

b. Mendorong BPN, Kemendag, dan Kementan berkoordinasi untuk memperhitungkan dengan matang ketersediaan dan stok gandum, hingga akhir tahun 2022;

c. Mendorong Pemerintah terus menjaga kerja sama perjanjian ekspor dan impor antar negara dan antar wilayah untuk memastikan komitmen para negara pemasok untuk menjaga stabilitas pasokan pangan;

d. Mendorong Kementan dan Kemendag mengoptimalkan potensi produksi komoditas pangan dalam negeri dan meningkatkan variasi hasil pertanian lokal untuk menekan kelangkaan komoditas impor dan memenuhi kebutuhan dalam negeri;

e. Meminta Kemendag mengatur strategi distribusi dengan pengawasan yang ketat untuk memastikan jalur distribusi dan perdagangan komoditas pangan lancar. (RA)

(15 Agustus 2022)